Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Negara-negara Arab di kawasan Timur Tengah, meskipun memiliki sumber daya minyak, mineral yang berharga, serta posisi strategis yang penting, masih terus menghadapi berbagai persoalan ekonomi. Kondisi tersebut berlangsung meskipun negara-negara ini memiliki hubungan terbuka dengan Amerika Serikat dan negara-negara Barat.
Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah media telah menerbitkan laporan mengenai dugaan penyelundupan minyak dari negara-negara Arab, termasuk Irak dan Suriah, menuju wilayah pendudukan Israel.
Baru-baru ini, media Irak Al-Maalouma menerbitkan laporan yang mengungkap aktivitas jaringan penyelundupan minyak yang diduga memiliki hubungan dengan partai-partai berpengaruh di Irak utara, kelompok-kelompok bersenjata Suriah, serta sejumlah perantara internasional.
Menurut laporan tersebut, jaringan ini mengangkut minyak Irak dan Suriah melalui wilayah Turki sebelum mengirimkannya ke wilayah pendudukan Israel. Seorang sumber dari Suriah dalam wawancara dengan kantor berita Al-Maalouma mengklaim bahwa ratusan truk tangki yang mengangkut minyak selundupan dari Irak dan Suriah bergerak menuju Turki.
Setelah memasuki wilayah Turki, muatan minyak tersebut kemudian dikirimkan melalui jalur laut menuju wilayah pendudukan Israel. Menurut sumber tersebut, minyak selundupan dijual dengan harga diskon antara 40 hingga 50 persen dibandingkan harga resmi di pasar minyak internasional.
Ia menyatakan bahwa jaringan penyelundupan tersebut memiliki hubungan langsung dengan sejumlah partai Kurdi yang berpengaruh serta kelompok-kelompok bersenjata Suriah yang berafiliasi dengan Turki.
Sumber itu menambahkan bahwa setelah tiba di pelabuhan-pelabuhan Turki, muatan minyak dikirimkan secara langsung menggunakan kapal kargo menuju pelabuhan-pelabuhan yang berada di bawah kendali rezim Zionis.
Sumber tersebut menjelaskan kepada Al-Maalouma bahwa jaringan penyelundupan memanfaatkan gangguan pada jalur pipa ekspor resmi untuk menjalankan mekanisme pengangkutan produk minyak dan bahan bakar melalui truk tangki serta kendaraan pengangkut.
Untuk mempermudah pergerakan mereka melewati lembah-lembah dan jalur gurun tanpa menimbulkan kecurigaan, jaringan tersebut mengganti pelat nomor asli kendaraan Irak dan Kurdi dengan pelat nomor Turki yang palsu atau telah dimodifikasi.
Ia menambahkan bahwa aktivitas penyelundupan tidak terbatas pada perlintasan resmi seperti Ibrahim Khalil serta kawasan Faysh Khabur–Semalka.
Jalur penyelundupan juga melintasi desa-desa perbatasan dengan medan sulit di Provinsi Duhok, serta sejumlah titik daratan dan sungai yang sempit di kawasan pertemuan tiga wilayah perbatasan.
Di beberapa titik, para penyelundup menggunakan perahu untuk menyeberangi Sungai Tigris. Jaringan ini juga memanfaatkan jalur pegunungan yang sulit dilalui untuk menyelundupkan berbagai barang bernilai tinggi, seperti rokok.
Barang-barang mewah dan produk tembakau turut diselundupkan dalam jumlah besar untuk menghindari pembayaran pajak dan bea masuk. Laporan tersebut juga mengungkap dugaan adanya koordinasi erat di lapangan antara jaringan penyelundupan dan kelompok-kelompok bersenjata yang menguasai wilayah Suriah utara, khususnya Divisi Sultan Sulaiman Shah serta kelompok-kelompok yang setia kepada Ankara.
Koordinasi tersebut bertujuan menjamin keamanan jalur perjalanan truk tangki dan distribusi bahan bakar di wilayah Suriah. Selain itu, jaringan yang sama diduga terlibat dalam aktivitas penyelundupan manusia dan migrasi ilegal menuju Turki serta Eropa, dengan menarik pembayaran antara 4.000 hingga 5.000 dolar AS untuk setiap orang.
Penyelundupan Sumber Daya Irak Ancam Keamanan dan Kesehatan Masyarakat
Sumber tersebut memperingatkan bahwa aktivitas jaringan penyelundupan ini dapat menimbulkan dampak serius terhadap keamanan nasional, perekonomian, dan kesehatan masyarakat Irak. Menurutnya, jaringan-jaringan tersebut memanfaatkan belum terhubungnya sejumlah pos perbatasan di kawasan itu dengan sistem kepabeanan elektronik ASYCUDA yang telah diterapkan di Baghdad.
Kondisi ini memungkinkan masuknya barang-barang yang tidak diketahui asal-usulnya tanpa melalui sistem pelacakan elektronik. Akibatnya, para pedagang dapat memperoleh margin keuntungan ilegal antara 30 hingga 60 persen melalui penghindaran pajak. Selain itu, pasar-pasar dibanjiri perangkat elektronik dan suku cadang yang masuk tanpa mengikuti ketentuan resmi.
Sumber tersebut juga mengungkap dugaan adanya persoalan serius di bidang kesehatan masyarakat akibat aktivitas penyelundupan. Ia menyebut masuknya ribuan jenis obat-obatan yang belum menjalani pengujian, sekaligus praktik yang menghambat program pengembangan industri farmasi dalam negeri Irak.
Tidak hanya itu, muatan daging dan ayam beku yang telah melewati masa kedaluwarsa juga diduga diselundupkan melalui jalur perlintasan di Duhok. Barang-barang tersebut kemudian disimpan di gudang-gudang tersembunyi.
Di tempat itu, daging yang telah kedaluwarsa dicampur dengan daging segar untuk menyembunyikan tanda-tanda kerusakan sebelum didistribusikan ke restoran dan toko daging. Pada akhirnya, produk-produk tersebut sampai kepada masyarakat tanpa melalui pengawasan dan pemeriksaan resmi.
Kelompok Perlawanan Peringatkan Penjarahan Sumber Daya Minyak Irak
Penyelundupan minyak Irak menuju wilayah pendudukan Israel, di tengah kondisi kehidupan masyarakat Irak yang masih menghadapi kesulitan ekonomi, selama ini mendapat penolakan dari kelompok-kelompok perlawanan.
Para pemimpin kelompok perlawanan telah meminta pemerintah pusat Irak untuk memberikan perhatian serius terhadap kekayaan finansial dan sumber daya minyak milik rakyat Irak, serta mencegah penjarahan sumber daya nasional negara tersebut.
Syeikh Akram al-Kaabi, Sekretaris Jenderal Gerakan Nujaba Irak, beberapa waktu lalu menyampaikan kritik terkait dugaan pencurian minyak Irak.
Ia mengatakan: "Berbagai upaya pembenaran yang berkembang di tengah opini publik mengenai persoalan-persoalan penting dan menentukan, yang menempatkan Irak dalam ketergantungan kepada poros kejahatan Amerika Serikat, khususnya melalui kepatuhan terhadap keputusan Tom Barrack, yang disebut sebagai pengusaha mafia Zionis, mengenai Hashd dan kelompok-kelompok perlawanan, semuanya berkisar pada satu persoalan. Pendapatan dari penjualan minyak Irak diterima oleh Amerika Serikat."
Al-Kaabi menambahkan: "Melawan proses ini merupakan salah satu tugas terpenting yang telah diemban oleh Perlawanan Irak. Kami tidak akan tinggal diam menghadapi penjarahan kekayaan rakyat Irak, dalam bentuk apa pun dan dengan dalih apa pun."
Pada bagian akhir laporannya, Al-Maalouma menyinggung berbagai tuduhan mengenai penyelundupan minyak dan pemindahan pendapatan yang dihasilkannya ke luar negeri. Media tersebut menyerukan agar pemerintah pusat Irak, lembaga pengawas, serta aparat penegak hukum dan peradilan mengambil langkah serius untuk menghadapi aktivitas tersebut.
Laporan itu menegaskan bahwa berlanjutnya praktik penyelundupan minyak semakin memperlihatkan pentingnya tindakan tegas untuk menghentikan pelanggaran tersebut dan mencegah keluarnya kekayaan nasional Irak ke luar negeri.
Komentar Anda